Bandar Lampung,
Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) menggelar diskusi konflik waktu pelaksanaan Pilgub
(Pemilihan Gubernur) 2013 atau 2015 dengan tema “Mencari Akar Masalah Sengketa
Politik Pelaksanaan Pilkada Lampung 2013 atau 2015” yang diikuti sekitar 30
peserta yang tergabung dalam HMI Bandar Lampung antara lain, mahasiswa Unila,
IAIN dan Darmajaya di gedung HMI , Kamis (13/12) kemarin.
Terkait gagasan waktu pelaksanaan
pilgub Lampung yang semakin membuat masyarakat bingung, dan demokrasi yang
seharusnya dapat memberikan stimulus positif bagi masyarakat dalam upaya
memberikan perubahan ekonomi, sosial dan budaya melalui pergantian kepemimpinan
gubernur malah membuat masyarakat apatis dan apriori terhadap hajat demokrasi tersebut.
Oleh karena itu HMI cabang Bandar
Lampung yang sebagian dari masyarakat ini turut memikirkan dan menggali
pandangan narasumber terkai masalah ini secara lebih kritis, mendalam dan
konstruktif.
Diskusi yang dihadiri oleh ketua
HMI Muslim Bahsyar, Hidayat selaku Kepala Dinas Kesbangpol yang mewakili pihak
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, Andi Mulyaningsih, dari KPU Lampung, dan
Ariska Warganegara sebagai akademik Unila.
Andi Mulyaningsih, dari KPU
Lampung menjelaskan alasan kenapa pihak KPU tetap beruasaha menyelenggarakan
pilgub Lampung dipercepat tahun 2013 mendatang, karena menurutnya setahun
sebelum masa jabatan Gubernur berakhir.
Mengingat pernyataan ketua KPU
Lampung, Nanang Trenggono, dasar hkum penyelenggaraan pilgub Lampung dipercepat
adalah surat KPU Pusat yang meminta KPU Lampung menggelar pilgub paling lambat
Oktober 2013.
Selain itu, Pada pasal 86 UU No.32
Th. 2004 tentang Perda yang isinya pemungutan suara pemilihan pasangan calon
kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan paling lambat satu bulan
sebelum masa jabatan berakhir. KPU akan berkoordinasi dengan Gubernur untuk
menyusun anggaran Pilgub yang rasional dan transparan dan akan dikonsultasikan
kepada DPRD Lampung.
Kepala Dinas Kesbangpol, Hidayat
mengatakan biarkan saja pihak terkait yang memikirkan waktu pelaksanaan pilgub.
“Tidak usah menggembar-gembor masalah pilgub ini, biarkan pihak yang terkait
saja yang memikirkannya. Kecuali kita ikut serta menjadi calon gubernur baru
kita ikut pusing memikirkannya,” katanya.
Menurut ketua HMI Muslim Bahsyar,
perbedaan jalan pikiran ini tentu terus harus segera diberikan solusi dengan
elihat alasan hukum yang mendasarinya. Perbedaan ini terjadi mungkin saja
karena adanya aturan politik yang fleksibel dan belum adanya pihak menengah
“masyarakat” yang berusaha memberikn gagasan pikir penengah atas masalah ini.
“Tentu masyarakat akan mampu memberikan solusi jika mengetahui akar masalah
konflik pelaksanaan pilkada ini, dengan itu masyarakat mampu bersama pemerintah
duduk bersama memberikan solusi terbaik bagi pikada kedpan,” harapnya. (Lia)
Home »
» HMI Gelar Diskusi Sengketa Pelaksanaan Pilgub

Posting Komentar